Jumat, 28 Mei 2010

Asap Tembakau Lebih Berbahaya Dari Asap Ganja

ScienceDaily (Oct. 19, 2005) – Asap dari ganja ternyata tidak memiliki resiko karsinogen sebesar asap tembakau. Pada ulasan sebuah artikel yang diterbitkan hari ini di Jurnal of Harm reduction, Dr. Melamed dari Universitas Colorado, Colrado Springs, USA, menulis bahwa walaupun asap ganja dan asap tembakau punya komposisi senyawa kimia yang sangat mirip, bukti menunjukkan bahwa efek mereka sangat berbeda dan asap ganja jauh lebih sedikit berefek karsinogen daripada efek dari asap tembakau.



Efek farmakologis dari asap tembakau dan ganja berbeda dalam berbagai hal, sebagian besar karena asap tembakau mengandung nikotin sementara asap ganja mengandung tetrahydrocannabinol (THC). Efek yang memicu kanker ditingkatkan oleh nikotin, sementara efek yang sama ini dikurangi dan dihambat oleh THC.

Asap tembakau dan ganja mengandung senyawa karsinogenik yang sama – dan tergantung pada bagian mana dari tanaman yang dihisap, asap ganja bisa mengandung lebih banyak senyawa ini – namun, dimana nikotin mengaktifkan senyawa karsinogenik ini, THC telah terbukti menghambat mereka pada sel-sel tikus. THC cenderung lebih memiliki efek protektif (melindungi) terhadap senyawa-senyawa karsinogen yang terdapat pada asap terhadap manusia juga, namun asap ganja tetaplah memiliki resiko karsinogen.

Sementara nikotin dan THC dapat bekerja pada jalur seluler yang berhubungan, mereka terikat pada reseptor yang berbeda untuk mengaktifkan jalur ini. Sel-sel pada jalur pernafasan dan paru-paru dilapisi dengan reseptor nikotin, namun tidak tampak memiliki reseptor THC. Ini menjelaskan kenapa menghisap asap ganja tidak berhubungan dengan kanker paru-paru, penyebab utama kematian dari merokok tembakau.
Ganja juga telah ditunjukkan dapat membunuh sel-sel kanker dan menghambat pertumbuhan tumor, sebagian dengan mengurangi pembentukan pembuluh darah yang memberi makan tumor. Namun “efek dari cannabinoid adalah kompleks dan terkadang kontradiktif”, diperingatkan oleh penulisnya. Sebagai tambahan, ketika ganja sering dihisap dengan tembakau, efek dari kedua zat tersebut dapat berinteraksi dalam cara yang kompleks.



Ganja adalah obat-obatan dengan kategori kelas C di Amerika Serikat. Ganja telah dihubung-hubungkan dengan peningkatan resiko psikosis dan schizophrenia, pada sekelompok kecil dari individu yang memang rentan terhadapnya. Namun terdapat bukti-bukti yang terus bertambah bahwa ganja memiliki kegunaan medis yang penting dan bisa meningkatkan kondisi kehidupan dari pasien-pasien yang menderita berbagai macam jenis penyakit, termasuk multiple sclerosis, AIDS, Alzheimer dan Insomnia. Terlepas dari ini, pemerintah telah menunjukkan keengganan untuk melegalisasikan penggunaan ganja dalam kedokteran, dengan dasar bahwa resiko yang berkaitan dengan penggunaan ganja masih lebih besar daripada manfaatnya.

BioMed Central (2005, October 19). Cannabis Smoke Is Less Likely To Cause Cancer Than Tobacco Smoke. ScienceDaily. Retrieved May 28, 2010, from

http://www.sciencedaily.com/releases/2005/10/051019003339.htm

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar